September 23, 2021

Financial wellness apps are winning customers and protecting the vulnerable as the race for engagement banking in Indonesia heats up

  • 80% of Indonesian banks plan to execute or expand their use of financial literacy tools over the next 12 months
  • Indonesia has one of the highest rates of people using their smartphones for banking in the region, sitting at 75%
  • Outdated technology, organisational silos, and competing priorities are the main barriers to upgrading and implementing financial wellness and digital money management tools and apps
  • Backbase Marketing
  • September 23, 2021

September 23, 2021, Jakarta, Indonesia: A new study has revealed around 80% of Indonesian banks plan to execute or expand their use of financial literacy tools over the next 12 months, making it the second-highest rate in the Asian Pacific.

The number of people using their smartphones for banking in the region is one of the highest, sitting at 75%, according to a Backbase commissioned study, conducted by Forrester Consulting. While this was largely driven by younger Indonesians, it also shows the increased demand for more digital services through mobile devices such as savings and budgeting tools, spending analysis, and automatic debt repayments.

Backbase APAC Regional Vice President, Iman Ghodosi, believes that banks are becoming more mindful of the financial decisions of their customers and banks are going ‘all in’. Mr Ghodosi said:

“It’s a very exciting time for the digital banking industry and what we’re noticing is that as the competition heats up, banks are finding improved ways to keep their customers interested in their services. There are also wider social issues such as financial literacy and inclusion that banks are actively addressing. 58% of banks in the region plan to increase their spend on financial wellness initiatives over the next 12 months. 94% are also planning to or are actively expanding their digital money management and financial wellness tools for customers.”

There’s also a bigger push to drive growth for the digital banking industry following new banking rules in Indonesia that allows almost full foreign ownership of local lenders. Mr Ghodosi added:

“It’s more important than ever to own the relationship with your customer to stay ahead of the pack in the engagement banking era. This future-proof way of operating stresses a one-platform approach for banking. It completely re-architects the bank to focus on the customer, moving away from siloed technology investments.”


Financial wellness apps is a solution to protect the vulnerable

Indonesia’s IT Ministry blocked almost 450 illegal technology providers in the first half of 2021 alone. This has brought the low financial literacy into the national spotlight, showing just how vulnerable unprepared customers can be.

As a solution to this rising issue and the growing gap in financial inclusion, banks are leaning on financial wellness apps as a way to provide access to useful and affordable financial products and services.

Mr Ghodosi stresses that low financial literacy has become the greatest barrier to financial inclusion:

“These apps empower users by providing them with tools, suggestions, and guidelines for better financial living, Banks want to protect their vulnerable customers, keep them for longer, and help to prevent some of the illegal activity happening in the industry.”

This vision is echoed by the recent findings that show banks are focusing on caring for and protecting their customers through advancements in artificial intelligence and data analytics. For instance, of the Indonesian retail banking business decision-makers interviewed;

  • 68% said preventing exploitation of vulnerable and older customers was an important aspect of financial wellness apps;
  • 66% believed identifying risks of vulnerability and financial difficulty in their customers was important;
  • 76% wanted to encourage customers to build better financial habits for a successful future.


Outdated technology and silos key roadblocks

Success in the engagement banking era isn’t without its challenges for banks. The new study uncovered that 66% of retail banking business decision-makers feel that outdated technology is a roadblock to complete transformation. Organizational silos and competing priorities are also a barrier when trying to implement a future-proof digital banking platform. Mr Ghodosi said:

“Banks need to address these challenges as quickly as possible, as whoever succeeds first will have a clear competitive advantage over the others. Another aspect that is sometimes forgotten in the process is the immense data collection opportunities available. Consumers are waiting for these services. At the end of the day, It’s a win-win for both customers and institutions, and we can’t wait to see what happens next.”


About Backbase:

Backbase is on a mission to transform the broken banking system, so financial institutions don’t just interact—they engage—with the people they serve.

That’s made possible with the Backbase Engagement Banking Platform—powering all lines of business on a single platform, including Retail, SME & Corporate, and Wealth Management. From digital sales to everyday banking, the platform’s entire design focuses on a seamless and captivating experience for both customers and employees.

Industry analysts Ovum and Celent continuously recognize Backbase’s front-runner position, and over 120 large financials around the world are powered by the Backbase Engagement Banking Platform—including AIB, Barclays, Banamex, Bank of the Philippine Islands, BNP Paribas, Bremer Bank, Citibank, Citizens Bank, CheBanca!, Discovery Bank, Greater Bank, HDFC, IDFC First, KeyBank, Lloyds Banking Group, Metrobank, Navy Federal Credit Union, PostFinance, RBC, Société Générale, TPBank, Vantage Bank Texas, Westpac, and Wildfire Credit Union.

Read in Bahasa Indonesia

Show more

Era Engagement Banking Lecut Perbankan untuk berfokus pada kebutuhan nasabah dan pihak rentan melalui aplikasi kesehatan keuangan

  • 80% perbankan di Indonesia berencana untuk mengeksekusi atau memperluas literasi keuangan sebagai layanan konsumen selama 12 bulan ke depan
  • Indonesia menjadi negara dengan jumlah penggunaan ponsel cerdas untuk mengakses kebutuhan perbankan tertinggi di Asia Pasifik, mencapai 75%
  • Teknologi yang ketinggalan zaman, sekat-sekat organisasi, dan prioritas yang tidak terencana menjadi penghalang terbesar dalam penerapan dan peningkatan layanan aplikasi kesehatan keuangan dan manajemen uang digital

23 September, 2021, Jakarta, Indonesia :Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Backbase melalui Forrester Consulting mengungkapkan bahwa sekitar 80% perbankan di Indonesia berencana untuk mengeksekusi atau memperluas literasi keuangan sebagai layanan konsumen selama 12 bulan ke depan, menjadikan target ini sebagai yang tertinggi kedua di Asia Pasifik.

Menurut studi tersebut jumlah penggunaan ponsel cerdas untuk mengakses kebutuhan perbankan di kawasan ini adalah salah satu yang tertinggi, mencapai 75%. Sebagian besar pengguna didominasi oleh anak muda dan menunjukkan adanya peningkatan permintaan akan layanan digital melalui perangkat seluler seperti layanan tabungan dan penganggaran, analisis pengeluaran, dan pembayaran utang otomatis.

Backbase Regional APAC Vice President, Iman Ghodosi, percaya bahwa bank menjadi lebih memperhatikan dengan seksama keputusan keuangan nasabah mereka dan bank akan melakukan dengan sebaik-baiknya untuk menjamin kebutuhan nasabah.
“Ini adalah momen yang sangat menarik bagi sektor perbankan digital. Berdasarkan pengalaman kami, ketika persaingan memanas, bank akan menemukan cara yang lebih baik untuk membuat nasabah mereka tetap tertarik dengan layanan yang ditawarkan,” kata Ghodosi.

“Ada juga masalah sosial yang lebih luas seperti literasi dan inklusi keuangan yang secara aktif ditangani oleh bank. Sebagai contoh, sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa 58% bank di Indonesia berencana untuk meningkatkan pengeluaran mereka untuk program kesehatan keuangan selama 12 bulan ke depan. Selain itu sebanyak 94% dari sector perbankan berencana atau secara aktif memperluas pengelolaan uang digital dan layanan kesehatan keuangan mereka untuk nasabah.”

Ada juga inisiatif yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan industri perbankan digital mengikuti aturan perbankan terbaru di Indonesia yang memungkinkan mayoritas kepemilikan asing atas perusahaan pemberi pinjaman lokal.

“Semakin penting untuk memiliki hubungan dengan pelanggan Anda agar tetap menjadi yang terdepan di era engagement banking saat ini,Cara kerja yang relevan terhadap masa depan ini menekankan pendekatan one-platform untuk sektor perbankan. Cara ini sepenuhnya merancang ulang sistem perbankan untuk berfokus pada nasabah, menjauh dari investasi teknologi yang terisolasi satu sama lainnya.” tambah Mr Ghodosi.

Aplikasi kesehatan keuangan menjadi solusi untuk melindungi pihak rentan

Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir hampir 450 penyedia teknologi keuangan ilegal di paruh pertama tahun 2021. Hal ini telah membuat literasi keuangan yang rendah menjadi sorotan nasional, menunjukkan betapa rentannya nasabah yang tidak siap.

Sebagai solusi untuk masalah literasi finansial yang rendah ini dan kesenjangan yang semakin besar dalam inklusi keuangan, sektor perbankan mengandalkan aplikasi kesehatan keuangan sebagai cara untuk menyediakan akses ke produk dan layanan keuangan yang benar-benar bermanfaat dan terjangkau.

Mr Ghodosi menekankan bahwa literasi keuangan yang rendah telah menjadi penghalang terbesar untuk mencapai inklusi keuangan.

“Aplikasi ini membantu nasabah dengan memberi mereka alat, saran, dan pedoman untuk kehidupan finansial yang lebih baik,” kata Ghodosi.
Beliau menambahkan, “Bank ingin melindungi nasabah mereka yang rentan, menjaga mereka lebih lama, dan membantu mencegah beberapa aktivitas ilegal yang terjadi di industri keuangan.”

Visi ini didukung oleh temuan terbaru yang menunjukkan bahwa bank telah berfokus pada usaha untuk mempertahankan dan melindungi nasabah mereka melalui kemajuan dalam kecerdasan buatan dan analisa data. Misalnya, dari para pengambil keputusan bisnis perbankan ritel Indonesia yang diwawancarai;kata Ghodosi.

  • 68% mengatakan mencegah eksploitasi nasabah yang rentan dan lebih tua adalah aspek penting dari aplikasi kesehatan keuangan;
  • 66% percaya bahwa mengidentifikasi risiko kerentanan dan kesulitan keuangan pada nasabah mereka adalah penting;
  • 76% ingin mendorong nasabah untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih baik untuk masa depan yang sukses.

Teknologi yang ketinggalan zaman dan sekat-sekat organisasi menjadi penghalang

Keberhasilan di era engagement banking bukan berarti tanpa tantangan bagi sektor perbankan. Studi baru menemukan bahwa 66% pengambil keputusan pada perbankan ritel merasa bahwa teknologi yang ketinggalan zaman adalah penghalang terbesar untuk melaksanakan transformasi. Sekat-sekat organisasi dan prioritas yang bersaing juga menjadi penghalang ketika mencoba menerapkan platform perbankan digital yang relevan terhadap masa depan.

“Bank perlu mengatasi tantangan ini secepat mungkin, karena siapa pun yang berhasil terlebih dahulu akan memiliki keunggulan kompetitif yang jelas dibandingkan yang lain,” kata Ghodosi.

Dia menambahkan, “Aspek lain yang terkadang terlupakan dalam proses ini adalah banyaknya peluang pengumpulan data yang tersedia. Nasabah menunggu layanan ini. Pada akhirnya, ini adalah win-win solution bagi nasabah dan institusi, dan kami tidak sabar untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.”

Tentang Backbase:

Backbase memiliki misi untuk mengubah sistem perbankan, sehingga lembaga keuangan tidak hanya berinteraksi tetapi juga terlibat dengan pelangganyang mereka layani.

Hal itu dimungkinkan dengan Backbase Engagement Banking Platform — memberdayakan semua lini bisnis dalam satu platform, termasuk Ritel, UKM & Korporat, dan Wealth Management. Dari penjualan digital hingga perbankan sehari-hari, seluruh desain platform berfokus pada pengalaman yang mudah digunakan dan menarik bagi pelanggan dan karyawan.

Analis industri Forrester, Ovum dan Celent senantiasa mengakui posisi terdepan Backbase, dan lebih dari 120 keuangan besar di seluruh dunia didukung oleh Backbase Engagement Banking Platform — termasuk AIB, Barclays, Banamex, Bank of the Philippine Islands, BNP Paribas, Bremer Bank, Citibank, Citizens Bank, CheBanca!, Discovery Bank, Greater Bank, HDFC, IDFC First, KeyBank, Lloyds Banking Group, Metrobank, Navy Federal Credit Union, PostFinance, RBC, Société Générale, TPBank, Vantage Bank Texas, Westpac dan Wildfire Credit Union.

Get our latest research insights and weekly updates. Sign up now
Cookies on Backbase
We and third-parties use cookies on our website. We use cookies for statistical, preferences and marketing purposes. Google Analytics cookies are anonymized. Your preference can be changed by clicking 'Change options'. By clicking 'Accept' you accept the use of all cookies as described in our privacy-statement.
Necessary cookies help make a website usable by enabling basic functions like page navigation and access to secure areas of the website. The website cannot function properly without these cookies.
Preference cookies enable a website to remember information that changes the way the website behaves or looks, like your preferred language or the region that you are in.
Statistic cookies help website owners to understand how visitors interact with websites by collecting and reporting information anonymously.
Marketing cookies are used to track visitors across websites. The intention is to display ads that are relevant and engaging for the individual user and thereby more valuable for publishers and third party advertisers.